Mengetuk Pintu Hati

 

Setiap hari aku pulang dan pergi pergi melewati jalanan rusak berbatu dengan banyak pohon rindang di pinggirannya. Di deretan jalan tersebut ada sebuah rumah kecil mungil dengan jendela bundar dan cerobong asap, persis seperti rumah dalam sebuah cerita dongeng. Itu rumah kamu.
Tahukah kamu… setiap hari aku berjalan lewati rumahmu. Begitu seringnya, aku sampai ingat persis warna coklat kusam pintu rumahmu dan dindingnya yang keabuan. Kulakukan itu tanpa sengaja dan tanpa rencana. Mau tidak mau, toh aku memang harus lewat jalanan rusak di depan rumahmu itu.
Setiap hari pula tidak bisa kuhindari melihat dirimu dibalik jendela. Beberapa kali kulihat kamu sedang sibuk menulis sesuatu atau membaca buku. Terkadang aku melihatmu membersihkan rumah sambil memutar lagu keras-keras. Tapi, aku paling sering melihatmu sedang duduk termenung dalam sepi seorang diri.
Tahukah kamu… setiap kali aku melihatmu, hatiku bertanya, “Siapa dia?” Ingin rasanya aku mengenalmu dan rasa itu sangat mengganggu sekali.
Dan akhirnya, malam itu kuberanikan diriku untuk singgah dan mengetuk pintu rumahmu. Jantungku berdegup kencang sewaktu kamu membuka pintu. Wajahmu yang manis mengintip dari balik celah pintu yang terkait oleh grendel kunci rantai. Continue reading “Mengetuk Pintu Hati”

Advertisements

6 Batu Ujian Dalam Hubungan

 

Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami ke arah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna? Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk diikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan?

⇒ Pertama, Ujian untuk merasakan sesuatu bersama.

Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan. Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri. Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersama sahabatku? Jika kalian merencanakan sesuatu, adakah kalian hanya berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain? Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan, “Mereka yang ingin bahagia sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah mem buat pihak yang lain bahagia. – mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, jangan lah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti pasangannya.

” Maka batu ujian yang pertama ialah:

“Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?”

⇒ Kedua, Ujian kekuatan. Continue reading “6 Batu Ujian Dalam Hubungan”

Cinta Dalam Kotak Kardus Bekas

 

“Telah begitu lama aku merasa bahwa dunia sekitarku sudah ditelan oleh keserakahan arus egoisme.”Demikian seorang teman yang bekerja di toko seven eleven di samping gerejaku memulai kisahnya. “Telah lama saya merasa bahwa hati manusia kini telah berubah dingin dan beku. Tapi sebuah peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemarin telah membuktikan bahwa pandanganku di atas adalah kesimpulan yang salah.”

“Saat itu sebagaimana biasanya, aku sibuk seharian melayani setiap orang yang datang ke toko ini. Tak terasa sudah pukul 1.30 pagi hari. Ketika saya hendak menutup toko untuk kembali, terdengar bell otomatik berdering. Tanpa mengangkat muka, dalam hati aku mengumpat; “Huh…dasar kelelawar dan kucing malam. Sudah jam begini tak pulang ke rumah tapi berkeliaran sepanjang malam.¡¦ Namun ketika aku mengangkat wajahku, kudapati seorang gadis cilik kira-kira berumur 15 tahun. Kedua tangannya mengangkat selembar kertas tertulis; “Aku tak dapat berbicara. Bolehkah engkau membantu aku?” Continue reading “Cinta Dalam Kotak Kardus Bekas”

Untukmu

Untukmu yang pernah mengisi hidupku..
Untukmu yang pernah menghias hatiku..
Untukmu yang mampu merubah pandanganku tentang dunia ini..
Untukmu yang mampu membuatku kembali padaNYA setelah jauh tersesat.. dan mampu membuatku menerima kenyataan hidup yang diberikan olehNYA..
Untukmu yang pernah ku letakkan harga diriku demi bersamamu.. dan menemanimu melewati luka-lukamu..
Untukmu yang terpaksa ku lepaskan demi ketenangan dan kebahagian hidupmu.. walau harus meninggalkan luka..
Untukmu yang dulu menjadi kekasih hatiku dan kini menjadi sahabat hidupku..
Untukmu ku ucapkan terima kasihku dari hati terdalamku..
Dan…
Maafkanlah bila aku pernah menyakiti hatimu..
Untukmu yang ku sebut dengan….
“Kenangan Terindah”

Nasehat Sahabat Tentang Cinta

Seorang sahabat pernah berkata…
“Jika kau menyayangi seseorang, maka sayangilah dia dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.
Jangan mengharapkan ia melakukan hal yang sama, tapi bersabarlah dan tetaplah berusaha, biarkan waktu yang akan menumbuhkan cinta dan sayang itu di dalam hatinya.”
Seorang sahabat lain berkata…
“Bijaklah kau dalam bercinta.
Jangan biarkan mata hatimu terbutakan oleh cinta.
Jangan biarkan harga dirimu jatuh dan terinjak-injak demi mengemis cinta atau mempertahankan cinta.
Orang yang mencintaimu dengan tulus akan selalu menghargai perasaanmu dan tak akan membiarkan dirimu rendah dihadapannya.
Tak semua hal harus dikorbankan demi mendapatkan cinta, masih ada hal yang harus dipertahankan.”