Kisah Inspirasi : Tangis Untuk Adikku

 

Aku dilahirkan di sebuah desa pegunungan yang terpencil. Orangtuaku petani. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap langit. Aku mempunyai seorang adik laki-laki, yang 3 tahun usianya lebih muda dari diriku, yang mencintaiku lebih dari aku mencintainya.

Suatu ketika aku menginginkan sarung tangan seperti gadis-gadis lain yang memilikinya juga. Untuk itu, aku mengambil uang ayahku di lacinya. Ayahku segera menyadari kehilangan. Beliau membuat kami, aku dan adikku berlutut di depan tembok, dengan bilah bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” hardik ayahku. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi dia berkata, “Baiklah jika begitu kalian berdua layak dipukul.”

Ayah mengangkat bilah bambu tinggi-tinggi dan siap memukulkannya kepada kami. Tiba-tiba adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya.”

Bilah bambu itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga dia mencambuki adikku sampai tersengal-sengal kehabisan nafas. Sesudahnya Ayah duduk di kursi batu kamu dan berkata dengan marah, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang. Hal apa lagi yang akan kamu lakukan kelak? Kamu layak dipukul sampai mati. Kamu pencuri tidak tahu malu.” Continue reading “Kisah Inspirasi : Tangis Untuk Adikku”

Advertisements

6 Batu Ujian Dalam Hubungan

 

Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami ke arah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna? Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk diikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan?

⇒ Pertama, Ujian untuk merasakan sesuatu bersama.

Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan. Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri. Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersama sahabatku? Jika kalian merencanakan sesuatu, adakah kalian hanya berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain? Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan, “Mereka yang ingin bahagia sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah mem buat pihak yang lain bahagia. – mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, jangan lah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti pasangannya.

” Maka batu ujian yang pertama ialah:

“Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?”

⇒ Kedua, Ujian kekuatan. Continue reading “6 Batu Ujian Dalam Hubungan”

Bacakan Yang Keras Pah Biar Jessica Bisa Dengar..

 

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah. Dia sedang mempersiapkan rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham yang akan diadakan besok pagi. Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat di sampingnya sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut dan sangat menarik perhatian Jessica.
“Pa liat!” Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya.
Budi menengok ke arahnya sambil menurunkan kacamatanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi, “Wah,.. buku baru ya Jes?”

“Ya papa”, Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya.

“Bacain Jessi dong Pa”, pinta Jessica lembut.

“Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh” sanggah Budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakan di depannya, dengan serius.

Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu, “Pa, mama bilang papa mau baca untuk Jessi..”.

Budi mulai agak kesal, “Jes, papa sibuk. Sekarang Jessi suruh mama baca ya?”

“Pa, mama cibuk terus, papa liat deh gambarnya lucu-lucu!”

“Lain kali Jessica, sana! Papa lagi banyak kerjaan”. Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi. Continue reading “Bacakan Yang Keras Pah Biar Jessica Bisa Dengar..”

Cinta Dalam Kotak Kardus Bekas

 

“Telah begitu lama aku merasa bahwa dunia sekitarku sudah ditelan oleh keserakahan arus egoisme.”Demikian seorang teman yang bekerja di toko seven eleven di samping gerejaku memulai kisahnya. “Telah lama saya merasa bahwa hati manusia kini telah berubah dingin dan beku. Tapi sebuah peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemarin telah membuktikan bahwa pandanganku di atas adalah kesimpulan yang salah.”

“Saat itu sebagaimana biasanya, aku sibuk seharian melayani setiap orang yang datang ke toko ini. Tak terasa sudah pukul 1.30 pagi hari. Ketika saya hendak menutup toko untuk kembali, terdengar bell otomatik berdering. Tanpa mengangkat muka, dalam hati aku mengumpat; “Huh…dasar kelelawar dan kucing malam. Sudah jam begini tak pulang ke rumah tapi berkeliaran sepanjang malam.¡¦ Namun ketika aku mengangkat wajahku, kudapati seorang gadis cilik kira-kira berumur 15 tahun. Kedua tangannya mengangkat selembar kertas tertulis; “Aku tak dapat berbicara. Bolehkah engkau membantu aku?” Continue reading “Cinta Dalam Kotak Kardus Bekas”

Orang Tuaku

 

Pukul 03.00 pagi aku dibangunkan suara derit pintu depan yang terbuka, rumah kami kecil dan berdinding kayu yang sederhana tidak akan dapat menyembunyikan suara derit pintu manapun yang dibuka. Aku juga mendengar desir rantai dan roda motor butut kami yang didorong melewati depan pintu kamarku keluar ke halaman lalu suara pintu depan ditutup dan dikunci, aku mendengar derit pelan pintu pagar kawat seadanya yang dipasang ayah untuk mencegah kambing masuk ke halaman dan memakan tanaman-tanaman milik ibu. Aku tahu motor itu dituntun menjauh dari rumah kami lalu batuk-batuk pelan ketika dinyalakan sebelum mengeluarkan suara raungan kasar yang sayup-sayup ku dengar sebelum semuanya kembali sunyi seolah tidak pernah terjadi apapun.

Aku tidak lagi bisa memejamkan mata, bayangan ibu dan ayahku yang sudah tak muda lagi menembus kabut pagi buta yang dingin dengan motor butut yang bisa mogok kapan saja menuju pasar induk untuk membeli beberapa barang yang bisa dijual lagi terus muncul dalam pikiranku. Aku melihat kedua adikku tertidur lelap dalam damai, mereka belum menyadari bagaimana beratnya hidup kami. Kami bukan orang miskin, ayahku menolak untuk dikatakan miskin. “Jika kita mengatakan kita miskin, berarti kita tidak mensyukuri apa yang kita punya. Kitakan punya rumah, tidak kekurangan makanan dan kalian masih bisa sekolah, masih banyak lagi yang lebih kekurangan dari pada kita” kata ayahku selalu. Continue reading “Orang Tuaku”

Yu Yuan “Aku Pernah Datang Dan Aku Sangat Patuh”

 

Kisah seorang gadis yatim piatu yang dirawat dan dibesarkan oleh laki-laki miskin. Gadis penderita leukemia yang memutuskan melepaskan biaya pengobatan senilai 540.000 Dollar. Dana pengobatan tersebut berhasil dihimpun dari perkumpulan orang China diseluruh dunia. Dia rela melepaskan dana pengobatan tersebut dan membaginya kepada tujuh anak yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Kalimat terakhir yang ia tinggalkan dalam surat wasiatnya adalah, “Saya pernah datang dan saya sangat patuh”. Seorang gadis berusia delapan tahun yang mempersiapkan pemakamannya sendiri.

Sejak lahir dia tidak pernah mengetahui siapa kedua orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang ayah angkat yang memungutnya dari sebuah lapangan rumput. Seorang pria miskin berusia 30 tahun. Karena miskin, tak ada perempuan yang mau menikah dengannya.

30 November 1996, adalah saat dimana pria miskin tersebut menemukan bayi yang sedang kedinginan diatas hamparan rumput. Diatas dadanya terdapat selembar kartu kecil tertuliskan tanggal, “20 November jam 12”.

Ketika ditemukan, suara tangisnya sudah melemah. Pria tersebut khawatir jika tak ada yang memperhatikannya, maka bayi tersebut akan mati kedinginan. Ia memutuskan untuk memungutnya. Dengan berat hati karena takut tak dapat menghidupinya kelak karena kemiskinannya, ia memeluk bayi tersebut sambil berkata “apa yang saya makan, itulah yang kamu makan”. Kemudian ia memutuskan untuk merawat bayi tersebut dan memberinya nama Yu Yuan. Continue reading “Yu Yuan “Aku Pernah Datang Dan Aku Sangat Patuh””

Shi Sang Chi You Mama Hau (Di Dunia Ini Hanya Ibu Seorang Yang Baik)

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati.

Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati. Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang-orang tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan-lahan.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. “Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua”, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya. Continue reading “Shi Sang Chi You Mama Hau (Di Dunia Ini Hanya Ibu Seorang Yang Baik)”